Pemberian Terapi Relaksasi otot Progresif untuk mengatasi kecemasan Pada narapidana wanita di lembaga permasyarakatan Kota Sukabumi

Author(s):
   LIA NOVIANTY,S.Kep.,Ners
Tahun:
   2015
Nama Penulis:
 LIA NOVIANTY,S.Kep.,Ners
Item Type:
 Peer Review
Keyword(s):
Terapi Otot Progresif
Abstract :
ABSTRAK

Pada perkembangan masyarakat saat ini banyak tuntutan bagi seseorang untuk mendapatkan keinginannya dengan segala cara termasuk melakukan tindakan kriminal. Pelaku kriminal saat ini tidak hanya dilakukan oleh pria saja, pada perkembangannya akibat tekanan hidup seorang wanita pun dapat melakukan tindakan kriminal. Akibat dari tindakan kriminal yang dilakukannya, wanita tersebut akan mendapatkan hukuman. Bentuk hukuman yang berlaku di Indonesia untuk kasus kriminal yaitu hukuman penjara atau dimasukan dalam Lembaga Pemasyarakatan dimana di dalamnya dilakukan proses bimbingan dan pembinaan bagi narapidana. Narapidana merupakan status seseorang yang telah dijatuhi hukuman pidana karena terbukti melanggar hukum pidana (Rahayu, 1997).
Kecemasan merupakan suatu kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart, 2007). Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan mengadopsi langkah-langkah action research yang terdiri dari 3 (tiga) tahapan, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan evaluasi.
Terapi otot progresif diberikan sebanyak 4 sesi selama 2 minggu. Dengan dua tahap yaitu dengan melakukan pre test dan post test.Terapi relaksasi otot progresif dilakukan sebanyak 4 sesi, setiap sesi dilakukan selama 35. Terapi ini dilaksanakan dalam 4 sesi selama 2minggu. Kegiatan ini diawali dengan pemberian terapi konvensional terlebih dahulu yaitu terapi untuk klien yang mengalami kecemasan. Setelah itu baru diberikan terapi relaksasi otot progresif. Terapi relaksasi otot progresif diberikan dalam empat (4) sesi, di dalam sesi pertama ini terapis membuat kontrak dan menjelaskan prosedur dan mendemontrasikan terapi relaksasi otot progresif. Sesi kedua dan ketiga terapis dan klien samasama melakukan relaksasi otot progresif. Pada hari ke empat terapis melakukan evaluasi terhadap keberhasilan terapi. Beberapa hal yang diobservasi adalah kendala-kendala yang muncul dalam proses pelaksanaan kegiatan. Selama proses terapi tidak ditemukan kendala semua peserta sebanyak 15 orang hadir semua. Evaluasi dilakukan pada akhir kegiatan terapi relaksasi otot progresif dimana narapidana wanita yang sudah menyelesaikan proses terapi sebanyak 4 sesi akan dilakukan pengukuran ulang terhadap tingkat kecemasannya. Dan hasilnya semua narapidana wanita sebanyak 15 orang tingkat kecemasanya mengalami penurunan.